Dunia
ini begitu damai, semua orang berbicara tanpa ada suara, hanya saling melihat
mereka sudah saling memahami, bahkan ada yang tanpa melihat pun mereka sudah
saling faham, keramaian lalu lintas juga berjalan dalam damai, tanpa ada suara,
mereka hanya berjalan pelan dengan wajah bersungut sungut, pasar yang begitu
berjubel pun terlihat sangat damai, semua orang berdesak desakan tanpa ada
suara, meski saling dorong dan sesekali mereka bertatap mata tak bersahabat
tapi semua berjalan tanpa suara, petirpun tak membuatku takut, banyak orang
takut melihat kilatan cahaya yang merambat di langit itu, tapi tidak untuk ku,
menurutku kilatan cahaya itu indah seperti seekor naga yang sedang mengeliat di
langit, aku suka sekali dunia ini, sama persis seperti tempat sunyi itu, meski
aku hanya menikmatinya selama 7 bulan, tapi aku sangat senang sekali ditempat
itu, hangat, nyaman dan aku selalu erasa kenyang tanpa bersusah susah mencari
makanan,yah... betul sekali, tempat itu adalah kandungan bundaku.
Aku
terlahir di dunia setelah ibuku mengandungku selama tujuh bulan, mungkin bisa
dikatakan kelahiranku terlalu dini untuk orang normal, tapi aku terlihat
normal, meski harus tinggal di inkubator selama 14 hari tapi aku terlahir sehat
dan gesit, ibuku bahagia meski agak takut melihat tubuhku yang begitu kecil,
aku tumbuh dalam kedamaian, aku sangat senang dengan kedamaian ini, meski
sesekali aku juga mendengar suara yang nyaring, dan itu membuatku terlonjak
kaget, aku paling benci saat-saat itu.
Hari
itu bunda terlihat murung sejak pagi, aku merasakannya dibalik senyum bunda,
aku mencoba menyentuh pipinya, aku masih bingung untuk membahsakannya, yang aku
tahu aku tak ingin bundaku bersedih, bunda memegang tangan kecilku kemudian
tersenyum dan mengecup dahiku, ayah hari ini juga tidak pergi seperti yang
setiap pagi dilakukunya, wajah ayah menyembunyikan sesuatu, dia berhasil
menutupinya dari orang lain, tapi tidak dari ku.
Aku
menatap ayah yang sedang menyetir dengan penasaran, aku ingin bertanya,’ kita
mau berjalan jalan kemana ayah?’, tapi sekali lagi aku masih tak mampu
membahasakannya, akhirnya aku hanya membuang muka dijendela, mungkin aku akan
tahu dari jalan yang akan dilewati ayah, sampai aku lelah dan tertidur, bunda
menepuk halus pipiku, aku mengerjapkan mataku, bunda mengatkan sesuatu yang tak
mengerti, aku hanya berjalan mengikuti bunda memasuki sebuah gedung yang besar
sekali, seingatku baru kali ini bunda mengajakku kesini, karena aku berjalan
lambat, heran dengan tempat itu, ayah tiba tiba menggendongku, setelah berjalan
dilorong yang lumayan panjang, akhirnya kita memasuki suatu ruangan yang
disambut oleh orang yang berbaju putih panjang, dia tersenyum cantik sekali,
ayah menyerahkan aku ke wanita cantik itu untuk diperiksa sampai aku merasa
bosan, setelah 1 jam lebih akhirnya aku dipertemukan lagi dengan ayah bundaku,
mereka berbicara seperti kebanyakan orang, tanpa suara, di tengah pembicaraan ibu
menangis terseduh seduh sambil mendekapku erat, aku ingin sekali
bertanya,’bunda kenapa menangis?’, dan aku masih tetap tak mampu
menyampaikanya.
Mungkin
bunda tak tahu, dari kejahuan aku melihat bunda masih menangis terseduh-seduh
dalam pelukan ayah, mereka mengira aku telah tidur nyenyak di kamarku, apa yang
terjadi?, kenapa bunda terus terusan menangis sejak dari tempat itu?, aku hanya
diam, dan air mataku mulai mengalir, kenapa aku tak mampu membahasakannya?, aku
hanya tak ingin bundaku menangis, pelan-pelan aku berjalan menuju kamarku, ku
utupi seluruh tubuhku dengan selimut lalu menangis sampai aku tertidur.
Kecupan
ringan membangunkanku dari tidur, wajah ibundaku telah kembali lagi ceria, aku
tak pernah bertanya kenapa seminggu yang lalu bunda terus menangis, hanya
karena satu kendala, aku tak mampu membahasakannya, hari itu aku mulai masuk
sekolah, bunda memakaikanku seragam biru putih yang sangat cantik, aku senang
sekali apalagi setelah bunda memberikanku kado yang di bungkus pita pink,
setelah ku buka, bunda memasangkan alat yang entah apa itu di kedua telingaku,
pertama aku tidak suka dengan alat itu karena sangat tidak nyaman saat dipakai,
ketika bunda mengantarku kesekolah baruku, aku semakin tidak suka dengan alat
itu, alat itu membuat dunia ini begitu bising dan ramai, aku merasa terusir
dari dunia sunyi kesukaanku, akhirnya aku melepasnya tanpa sepengetahuan bunda,
dan dunia ku kembali sunyi......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar