Minggu, 18 Mei 2014

KALAM BERSIMBOL




Dunia ini begitu damai, semua orang berbicara tanpa ada suara, hanya saling melihat mereka sudah saling memahami, bahkan ada yang tanpa melihat pun mereka sudah saling faham, keramaian lalu lintas juga berjalan dalam damai, tanpa ada suara, mereka hanya berjalan pelan dengan wajah bersungut sungut, pasar yang begitu berjubel pun terlihat sangat damai, semua orang berdesak desakan tanpa ada suara, meski saling dorong dan sesekali mereka bertatap mata tak bersahabat tapi semua berjalan tanpa suara, petirpun tak membuatku takut, banyak orang takut melihat kilatan cahaya yang merambat di langit itu, tapi tidak untuk ku, menurutku kilatan cahaya itu indah seperti seekor naga yang sedang mengeliat di langit, aku suka sekali dunia ini, sama persis seperti tempat sunyi itu, meski aku hanya menikmatinya selama 7 bulan, tapi aku sangat senang sekali ditempat itu, hangat, nyaman dan aku selalu erasa kenyang tanpa bersusah susah mencari makanan,yah... betul sekali, tempat itu adalah kandungan bundaku.
Aku terlahir di dunia setelah ibuku mengandungku selama tujuh bulan, mungkin bisa dikatakan kelahiranku terlalu dini untuk orang normal, tapi aku terlihat normal, meski harus tinggal di inkubator selama 14 hari tapi aku terlahir sehat dan gesit, ibuku bahagia meski agak takut melihat tubuhku yang begitu kecil, aku tumbuh dalam kedamaian, aku sangat senang dengan kedamaian ini, meski sesekali aku juga mendengar suara yang nyaring, dan itu membuatku terlonjak kaget, aku paling benci saat-saat itu.
Hari itu bunda terlihat murung sejak pagi, aku merasakannya dibalik senyum bunda, aku mencoba menyentuh pipinya, aku masih bingung untuk membahsakannya, yang aku tahu aku tak ingin bundaku bersedih, bunda memegang tangan kecilku kemudian tersenyum dan mengecup dahiku, ayah hari ini juga tidak pergi seperti yang setiap pagi dilakukunya, wajah ayah menyembunyikan sesuatu, dia berhasil menutupinya dari orang lain, tapi tidak dari ku.
Aku menatap ayah yang sedang menyetir dengan penasaran, aku ingin bertanya,’ kita mau berjalan jalan kemana ayah?’, tapi sekali lagi aku masih tak mampu membahasakannya, akhirnya aku hanya membuang muka dijendela, mungkin aku akan tahu dari jalan yang akan dilewati ayah, sampai aku lelah dan tertidur, bunda menepuk halus pipiku, aku mengerjapkan mataku, bunda mengatkan sesuatu yang tak mengerti, aku hanya berjalan mengikuti bunda memasuki sebuah gedung yang besar sekali, seingatku baru kali ini bunda mengajakku kesini, karena aku berjalan lambat, heran dengan tempat itu, ayah tiba tiba menggendongku, setelah berjalan dilorong yang lumayan panjang, akhirnya kita memasuki suatu ruangan yang disambut oleh orang yang berbaju putih panjang, dia tersenyum cantik sekali, ayah menyerahkan aku ke wanita cantik itu untuk diperiksa sampai aku merasa bosan, setelah 1 jam lebih akhirnya aku dipertemukan lagi dengan ayah bundaku, mereka berbicara seperti kebanyakan orang, tanpa suara, di tengah pembicaraan ibu menangis terseduh seduh sambil mendekapku erat, aku ingin sekali bertanya,’bunda kenapa menangis?’, dan aku masih tetap tak mampu menyampaikanya.
Mungkin bunda tak tahu, dari kejahuan aku melihat bunda masih menangis terseduh-seduh dalam pelukan ayah, mereka mengira aku telah tidur nyenyak di kamarku, apa yang terjadi?, kenapa bunda terus terusan menangis sejak dari tempat itu?, aku hanya diam, dan air mataku mulai mengalir, kenapa aku tak mampu membahasakannya?, aku hanya tak ingin bundaku menangis, pelan-pelan aku berjalan menuju kamarku, ku utupi seluruh tubuhku dengan selimut lalu menangis sampai aku tertidur.
Kecupan ringan membangunkanku dari tidur, wajah ibundaku telah kembali lagi ceria, aku tak pernah bertanya kenapa seminggu yang lalu bunda terus menangis, hanya karena satu kendala, aku tak mampu membahasakannya, hari itu aku mulai masuk sekolah, bunda memakaikanku seragam biru putih yang sangat cantik, aku senang sekali apalagi setelah bunda memberikanku kado yang di bungkus pita pink, setelah ku buka, bunda memasangkan alat yang entah apa itu di kedua telingaku, pertama aku tidak suka dengan alat itu karena sangat tidak nyaman saat dipakai, ketika bunda mengantarku kesekolah baruku, aku semakin tidak suka dengan alat itu, alat itu membuat dunia ini begitu bising dan ramai, aku merasa terusir dari dunia sunyi kesukaanku, akhirnya aku melepasnya tanpa sepengetahuan bunda, dan dunia ku kembali sunyi......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEREMPUAN SUNYI

Nama yang diberikan orang tuanya adalah nama seorang ratu di jaman Nabiyullah Yusuf AS, Zulaikha, seorang ratu tentunya berkehidupan mewah ...