Pengertian
Kata autisme berasal dari
bahasa Yunani, autos yang berarti “self”. Istilah ini digunakan
pertama kali pada tahun 1906 oleh psikiater Swiss. Eugen Bleuler, untuk merujuk
pada gaya berpikir yang aneh pada penderita skizofrenia (autisme adalah salah
satu dari “empat A” Bleuler). Cara berfikir autistik adalah kecenderungan untuk
memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa
kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Pada tahun 1943,
psikiater lain, Leo Kanner, menerapkan diagnosis “autisme infantil awal” kepada
sekelompok anak yang terganggu yang tampaknya tidak dapat berhubungan dengan
orang lain, seolah-olah mereka hidup dalam dunia mereka sendiri. Berbeda dari
anak-anak dengan retardasi mental, anak-anak ini tampaknya menutup diri dari
setiap masukan dunia luar, menciptakan semacam “kesendirian autistik” (Bleuler,
1906)
Autisme merupakan gangguan
perkembangan organik yang mempengaruhi kemampuan anak-anak dalam berinteraksi
dan menjalani kehidupannya (Hanafi,2002)
Autistik adalah suatu
gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial,
dan aktivitas imajinasi dan anak autistik ialah anak yang mempunyai masalah
atau gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris,
pola bermain, perilaku, dan emosi. (Depdiknas, 2002).
Menurut PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia) yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan 1993 dan
merupakan terjemahan dari ICD-X
{International
Classification of Diseases-X) yang diterbitkan WHO 1992 dan DSM-IV, yang dimaksud
autisme masa anak adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh
adanya abnormalitas dan atau ketidakmampuan perkembangan yang muncul sebelum
usia 3 tahun, dan anak mempunyai fungsi abnormal dalam 3 bidang yaitu interaksi
sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang. (Soetjiningsih, )
Dapat diambil kesimpulan bahwa autisme adalah
gangguan dalam tumbuh kembang, ditandai keabnormalan fungsi dari 3 aspek utama
yakni interaksi sosial, prilaku dan komunikasi.
Etiologi
Penyebab pasti autisme belum diketahui,
tetapi diketahui bahwa penyebabnya sangatlah kompleks dan mulrifaktorial,
terutama dipengaruhi faktor genetik. Sebelumnya banyak yang menyangka jika
autisme disebabkan oleh vaksinasi MMR yang biasanya mengandung thimerosal,
yaitu suatu senyawa organik berbasis-merkuri, mereka berfikir inilah tersangka
utama “epidemi autisme”. Pada tahun 2010 banyak penelitian menyatakan tidak
adanya hubungan antara autisme dengan vaksinasi MMR. ( Offit, 2010 )
Pendapat lain juga menyebutkan jika autisme
disebabkan oleh orang tua yang dingin, mengambil jarak, dan secara subtil
menolak anaknya. Pendapat merugikan tersebut sama sekali salah. Para peneliti
belum menemukan perbedaan dalam pola asuh anak para orang tua dari anak-anak
penderita autisme jika dibandingkan dengan para orang tua dari anak-anak
normal. Bagaimana mungkin jarak emosional orang tua menciptakan sebuah gangguan
seekstrem itu pada usia begitu dini? Bahkan penganiayaan yang keji sekalipun
tidak menyebabkan simtom yang mendekati bentuk atau tingkat keparahan
masalah-masalah yang ditemukan pada autisme. Kesimpulannya bahwa pendapat
diatas merupakan hipotesis yang tidak terukti kebenarannya melalui
penelitian-penelitian empirik. (olthmanns, 2013)
Dari berbagai penelitian disimpulkan
bahwa berbagai faktor secara sendiri atau bersama-sama mengganggu susunan saraf
pusat melalui mekanisine tertentu, yang akhirnya menghasilkan suatu sindrom
gangguan perilaku yang disebut sebagai autisme. Berbagai teori yang
diperkirakan menjadi penyebab terjadinya autisme adalah sebagai berikut:
Komplikasi pranatal,
perinatal, dan pascanatal, sering diketemukan pada anak yang menderita autisme,
seperti perdarahan setelah kehamilam trimester pertama serta mekonium pada cairan
amnion sebagai tanda adanya fetal distres dan preklamsia. Komplikasi Iainnya
antara lain adalah penggunaan obat-obatan tertentu pada ibu, infeksi rubela
pada ibu, inkompatibilitas rhesus, fenilketonuria yang tidak diobati, asfiksia
atau gangguan pernapasan Iainnya, anemia pada janin, dan kejang pada neonatus.
Semua komplikasi itu.menyebabkan gangguan fungsi otak yang diduga sebagai
penyebab autisme.
Diternukan
antibodi ibu terhadap antigen tertentu yang menyebabkan penyumbatan sementara aliran darah otak janin. Selain
itu, antigen tersebut juga ditemukan pada sel otak janin, sehingga antibodi ibu
dapat merusak jaringan otak janin. Keadaan
tersebut memperkuat teori peranan imunologi pada terjadinya autisme. Penyakit
autoimun seperti diabetes tipe 1, artritis rheumatoid, hipotiroid dan lupus
eritematosus sistemik, banyak ditemukan pada keluarga yang anaknya menderiu
autisme. Dikatakan bahwa autisme ditemukan 8,8 kali lebih banyak pada anak yang
ibunya menderita penyakit autoim
3. Teori
Infeksi
Peningkatan angka kejadian autisme
terjadi pada anak-anak yang lahir dengan rubela kongenital, ensefalitis herpes
simpleks, dan infeksi sitomegalovirus, sebagai
akibat dari kerusakan otak anak.
Pernah
dilaporkan bahwa overgrowth
jamur C.albicans
dapat menyebar ke seluruh tubuh termasuk
otak anak, sehingga mengganggu fungsi otak. C.albicans
juga mengeluarkan enzim fosfolipid dan protease yang mengakibatkan
permeabilitas usus meningkat, sehingga mudah dilalui protein yang belum
sempurna dipecah seperti gluten dan kasein. Dikatakan bahwa dengan diet rendah
gluten dan kasein, gejala autisme akan membaik, tetapi teori ini masih belum
terbukti kebenarannya.
4. Faktor
Genetik
Terdapat
bukti yang kuat bahwa faktor genetik berperan pada autisme.
Pada pasangan anak kembar satu telur (monozygot),
ditemukan
kejadian autisme sebesar 36-95%, sedangkan pada anak kembar 2 telor (dizygot)
kejadiannya
0-23%. Pada penelitian keluarga dari anak yang autisme, diketemukan
autisme pada saudara kandungnya 2,5-3%. Dikatakan pula bahwa autisme adalah
salah satu dari kemungkinan yang timbul pada anak yang secara genetik pada
keluarganya terdapat masalah belajar dan komunikasi. Didapatkan angka kejadian
autisme pada fragile-X sekitar 7-20% dan pada tuberous sclerosis sekitar
17-61%. Pernah dilaporkan sindrom fragile-X yang terjadi bersamaan dengan
gangguan X-linked autosomal dominan dan tuberous
sclerosis pada 8-11% kasus autisme.
Sindrom
fragile-X meliputi sekumpulan gejala, seperti retardasi mental ringan sampai
berat, kesulitan belajar, daya ingat jangka pendek yang buruk, kelainan fisik, serangan
kejang, dan hiper-refleksi. Sering juga ditemukan gangguan perilaku, seperti
hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, impulsif, ansietas, dan gangguan
autistik. Namun, hingga saat ini, hubungan antara autisme dengan sindrom
fragile-X masih diperdebatkan.
Komponen
genetik autisme cenderung heterogen, melibatkan sekitar 100 gen. Kelainan
genetik pada autisme ditemukan pada hampir semua mitokondria dan semua
kromosom, kecuali kromosom 14 dan 20. Diketahui bahwa untuk terjadinya gejala
autisme, terlibat gen majemuk yang berinteraksi dengan berbagai faktor
lingkungan sekitar.
5. Neurosains
Autisme
Berbagai
penyebab yang berbeda menghasilkan berbagai abnormalitas yang mirip dalam
perkembangan, struktur, atau fungsi otak, sehingga menghasilkan simtom serupa.
Sebagai bukti menunjukkan bahwa otak anak-anak penderita autisme lebih besar
dibanding rata-rata. Masalah itu tampaknya bersifat berkembang. Pertumbuhan
otak tampaknya terhambat, sehingga volume otak serebral dan otak sereberal
lebih kecil dibanding normal pada usia-usia lebih tua (courchesnes et al,.
2001)
6. Neurokimiawi/
neurotransmiter
Teori
ini mengacu pada ditemukannya peningkatan kadar serotonin pada sepertig anak
autisme. Sejak itu, peranan neurotransmiter pada autisme mendapat banyak
perhatian. Diduga gangguan fungsi neuro transmiter inilah yang mendasari
terjadinya gangguan fungsi prilaku dan kognitif pada autisme. Neurotransmiter
yang diduga menimbulkan gangguan autisme adalah serotonin, dopamin, dan opiat
endogen.
The Casinos, Games, and Bonuses of Playing at the Casinos
BalasHapusThe Casinos · Blackjack · Craps · Blackjack · 하남 출장마사지 Slots · Keno · Table Games · 평택 출장샵 Keno. · 안양 출장안마 Roulette 제천 출장샵 · Video Poker 부천 출장마사지 · Poker.