Minggu, 18 Mei 2014

KALAM BERSIMBOL




Dunia ini begitu damai, semua orang berbicara tanpa ada suara, hanya saling melihat mereka sudah saling memahami, bahkan ada yang tanpa melihat pun mereka sudah saling faham, keramaian lalu lintas juga berjalan dalam damai, tanpa ada suara, mereka hanya berjalan pelan dengan wajah bersungut sungut, pasar yang begitu berjubel pun terlihat sangat damai, semua orang berdesak desakan tanpa ada suara, meski saling dorong dan sesekali mereka bertatap mata tak bersahabat tapi semua berjalan tanpa suara, petirpun tak membuatku takut, banyak orang takut melihat kilatan cahaya yang merambat di langit itu, tapi tidak untuk ku, menurutku kilatan cahaya itu indah seperti seekor naga yang sedang mengeliat di langit, aku suka sekali dunia ini, sama persis seperti tempat sunyi itu, meski aku hanya menikmatinya selama 7 bulan, tapi aku sangat senang sekali ditempat itu, hangat, nyaman dan aku selalu erasa kenyang tanpa bersusah susah mencari makanan,yah... betul sekali, tempat itu adalah kandungan bundaku.
Aku terlahir di dunia setelah ibuku mengandungku selama tujuh bulan, mungkin bisa dikatakan kelahiranku terlalu dini untuk orang normal, tapi aku terlihat normal, meski harus tinggal di inkubator selama 14 hari tapi aku terlahir sehat dan gesit, ibuku bahagia meski agak takut melihat tubuhku yang begitu kecil, aku tumbuh dalam kedamaian, aku sangat senang dengan kedamaian ini, meski sesekali aku juga mendengar suara yang nyaring, dan itu membuatku terlonjak kaget, aku paling benci saat-saat itu.
Hari itu bunda terlihat murung sejak pagi, aku merasakannya dibalik senyum bunda, aku mencoba menyentuh pipinya, aku masih bingung untuk membahsakannya, yang aku tahu aku tak ingin bundaku bersedih, bunda memegang tangan kecilku kemudian tersenyum dan mengecup dahiku, ayah hari ini juga tidak pergi seperti yang setiap pagi dilakukunya, wajah ayah menyembunyikan sesuatu, dia berhasil menutupinya dari orang lain, tapi tidak dari ku.
Aku menatap ayah yang sedang menyetir dengan penasaran, aku ingin bertanya,’ kita mau berjalan jalan kemana ayah?’, tapi sekali lagi aku masih tak mampu membahasakannya, akhirnya aku hanya membuang muka dijendela, mungkin aku akan tahu dari jalan yang akan dilewati ayah, sampai aku lelah dan tertidur, bunda menepuk halus pipiku, aku mengerjapkan mataku, bunda mengatkan sesuatu yang tak mengerti, aku hanya berjalan mengikuti bunda memasuki sebuah gedung yang besar sekali, seingatku baru kali ini bunda mengajakku kesini, karena aku berjalan lambat, heran dengan tempat itu, ayah tiba tiba menggendongku, setelah berjalan dilorong yang lumayan panjang, akhirnya kita memasuki suatu ruangan yang disambut oleh orang yang berbaju putih panjang, dia tersenyum cantik sekali, ayah menyerahkan aku ke wanita cantik itu untuk diperiksa sampai aku merasa bosan, setelah 1 jam lebih akhirnya aku dipertemukan lagi dengan ayah bundaku, mereka berbicara seperti kebanyakan orang, tanpa suara, di tengah pembicaraan ibu menangis terseduh seduh sambil mendekapku erat, aku ingin sekali bertanya,’bunda kenapa menangis?’, dan aku masih tetap tak mampu menyampaikanya.
Mungkin bunda tak tahu, dari kejahuan aku melihat bunda masih menangis terseduh-seduh dalam pelukan ayah, mereka mengira aku telah tidur nyenyak di kamarku, apa yang terjadi?, kenapa bunda terus terusan menangis sejak dari tempat itu?, aku hanya diam, dan air mataku mulai mengalir, kenapa aku tak mampu membahasakannya?, aku hanya tak ingin bundaku menangis, pelan-pelan aku berjalan menuju kamarku, ku utupi seluruh tubuhku dengan selimut lalu menangis sampai aku tertidur.
Kecupan ringan membangunkanku dari tidur, wajah ibundaku telah kembali lagi ceria, aku tak pernah bertanya kenapa seminggu yang lalu bunda terus menangis, hanya karena satu kendala, aku tak mampu membahasakannya, hari itu aku mulai masuk sekolah, bunda memakaikanku seragam biru putih yang sangat cantik, aku senang sekali apalagi setelah bunda memberikanku kado yang di bungkus pita pink, setelah ku buka, bunda memasangkan alat yang entah apa itu di kedua telingaku, pertama aku tidak suka dengan alat itu karena sangat tidak nyaman saat dipakai, ketika bunda mengantarku kesekolah baruku, aku semakin tidak suka dengan alat itu, alat itu membuat dunia ini begitu bising dan ramai, aku merasa terusir dari dunia sunyi kesukaanku, akhirnya aku melepasnya tanpa sepengetahuan bunda, dan dunia ku kembali sunyi......

Senin, 12 Mei 2014

MANUSIA ABU-ABU....???????

Setelah melalui riset yang ala kadarnya dan serba keterbatasan data akhirnya dapat saya simpulkan bahwa Manusia yang bernapas menggunakan O2 di bumi ini, terbagi menjadi 4 golongan,
  1. Golongan putih.
  2. Golongan abu-abu kehijauan.
  3. Golongan abu-abu kebiruan.
  4. Golongan hitam.
 di sini akan coba saya perjelas satu persatu, klasifikasi ini tidak berdasarkan dengan aura tapi menurut siluet pikiran yang hanya bisa saya lihat dengan mata saya sendiri,
1. Golongan putih terdiri oleh orang-orang yang hampir punah populasinya di dunia ini, mereka ini yang disebut paku bumi oleh beberapa orang, loh kenapa?, karena saat orang orang ini sudah tak berpijak di dunia ini, saat tasbih orang-orang ini tidak berputar maka dunia akan segera menemui akhir ceritanya, orang-orang dalam golongan ini mempunyai banyak keistimewaan, baik dalam hubungannya dengan tuhannya atau pun hubungannya dengan alam dan manusia, mereka bisa mengimbangi dengan baik ibadah terhadap tuhannya dan pergaulannya sehari hari yang terlandasi oleh iman atau bisa dikatakan penerapan atas semua ajaran yang diajarkan tuhannya.

2. Golongan abu-abu kehijauan dihuni oleh orang-orang yang sangat baik dalam hal ibadah kepada tuhannya tapi orang-orang golongan ini sangat lemah dalam hal sosialisasi, mereka tak bisa membangun hubungan baik dengan sekitarnya mereka berpikir kehidupan ini tak ada artinya, hanya tuhan merekalah satu satunya yang nyata, jadi mereka tidak merasa mempunyai kepentingan dengan manusia apalagi alam, orang dalam golongan ini mempunyai sisi positif dalam hal ibadahnya, takkan ada yang memungkiri kalau tuhan adalah yang memberi kita napas jadi harus jadi prioritas utama dari segala hal, bukan menjadi prioritas segala hal,  bukannya saya setuju dengan atheis, tapi orang orang golongan ini sering meresahkan banyak orang, karena ibadahnya tidak memberi efek pada kehidupannya, dalam artian dia beribadah tapi tak menjalankan perintah agamanya yang mengatur tentang sesamanya, lantas buat apa tuhan menciptakan sejenisnya beserta alam kalau tuhan tidak menyuruh untuk membangun hubungan baik dengan keduanya. orang golongan ini baik kah?, buruk kah? anda yang mengamatinya yang bisa menilainya sendiri.

3. Golongan abu-abu kebiruan, orang-orang di golongan ini kebalikan orang dari golongan sebelumnya,  mereka mempunyai kemampuan untuk bersosialisasi dengan baik dengan sesamanya, dipandang baik oleh orang sekitarnya karena kebaikan budi pekerti dan sopan santun yang dimilikinya, mereka tidak sombong tidak pernah menyakiti orang lain, sehingga banyak orang yang mengira bahwa mereka begitu sempurna, memang mereka dipandang baik oleh manusia tapi bagaimana hubungannya dengan tuhan mereka?, jawabannya adalah nol besar, mereka hanya mengenal nama tuhan mereka tanpa definisi yang sempurna, mereka menganggap mereka bisa bernapas karena masih ada oksigen di bumi ini, mereka bisa makan karena mereka bekerja keras untuk bisa makan, dalam kehidupan mereka, 1+1 harus sama dengan 2, jika tidak maka hal itu adalah salah besar, kata takdir tak ada dalam kamus kehidupan mereka, ibadah??? jangan ditanya berapa kali, bahkan mereka tak tau caranya, apakah orang seperti ini buruk?, seperti orang diatas mereka diberi lebel dengan abu-abu.

4. Golongan hitam, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana hitamnya golongan ini, tidak semua warna hitam identik dengan hal- hal yang negatif, tapi untuk kali ini saya akan menyandarkan kata hitam dengan kenegativan, orang- orang yang tinggal dalam golongan ini tidak memiliki apa yang dimiliki golongan abu-abu kehijauan ataupun abu-abu kebiruan, maksudnya mereka tidak punya hubungan baik dengan sesamanya dan juga dengan tuhannya, hanya kegelapan yang terpancar dari pancaran pemikiran dari orang-orang tersebut, sudah dipastikan yang menghuni golongan ini hanya orang-orang yang disebut sampah masyarakat.

Tak setiap orang mempunyai pemikiran yang sama, begitu juga dengan anda pembaca yang budiman, ini hanya sekilas dari pemikiran saya.

"L. dalam dana & irama, lentera"

Minggu, 04 Mei 2014

short time

perjumpaan selalu meninggalkan cerita
kenapa takdir menggarisankanya
bukakah luka ini belum pulih benar
waktu yang lama belum cukup tuk menyembuhkannya
kukira rasa itu takkan mau bercokol lagi ditepian hati
semua ternyata sudah berubah, 
tanpa aku sadari, kunci itu telah dicuri
semoga ia takkan masuk tanpa permisi
tahukah kau? ruangan itu begitu rapuh
kau telah mampu meinggalkan nama di bibir pintu
entah hanya coretan atau sebuah ukiran
kau pinjamkan 2 sayap di punggunku 
membuat aku terbang melayang
meski aku begitu terlena, rasa takut itu masih ada
aku tak berniat menata ruangan itu lagi hanya dengan linangan air mata
kau harus tahu itu!
itulah kenapa aku selalu menguncinya
menjadikanya sesuatu yang keramat
sekarang terserah kau
kau telah memiliki kuncinya
tapi itu belum berarti kau pemiliknya sebelum kau membukanya, 
dan berikan sentuhan akhir di ruangan itu
meski hanya sebentar kau menoleh
butuh keajaiban hingga kau bisa temukan kunci itu
pendahulumu selalu gagal dengan monster penjaga
tapi kau tidak
tekat baja dan kelembutanmu adalah senjata langka
dan itu jawaban dari kelemahannya
entah kenapa ada harapan besar yang tersimpan
semoga kelak kau akan tinggal
DISINI.....


L dalam kata kesahajaan, bukan irama (it's truly yours) 


Hiasi iman dengan kecantikan

Tak sedikit iklan diTV menawarkan brbagai macam poduk kecantikan mulai dari produk yang mebuat rambut hitam sehitam malam, penghilang jerawat sampai penghalus telapk kaki, lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi, apkah semua itu berpengaruh saat usia menjelang senja? Apakah semua itu masih  terisa saat jasad malah berkalang tanah? Jawabannya satu, tidak, bagaimanapun cantiknya wanita di waktu mudanya, takkan pernah bisa megelk jika kecantikannya akan memudar seiring bertambahnya usia, sayangnya, di kalangan wanita sendiri tak banyak yang menyadarinya. Kronisnya kebanyakan muslimah merupakan salah satu dari mereka yang mengagungkan dan memuja kecantikan fisik,
Cantik itu boleh bahkna dicintai oleh ALLAH. “ALLAHUL JAMIL YUHIBBUL JAMAL”, tapi kemankah niat untuk menjadi cantik tu bermuara? Itulah yang menyebabkan ketidak bolehannya. Canik tanpa berhias itu mustahil, nah.....,jika tujuan berhias agar di puji, agar menarik agar dilihat laki laki. Itu yang menjadikan cantik sebagai sarang dosa. Apalagi sampai membuka aurotnya, naudzubillah.
Kecantikan yang sesungguhnya adalah kecantikan yang memancar dari dalam tubuh (inner beauty). Kecantikn dari dalam inilah yang sering memunculkan kekaguman dan dapat meningkatkan derajat wanita bahkan tanpa adanya pernak-pernik. Kecantikan, dari dalam ini seorang wanita akan tampak begitu istimewa. Inner beauty muncul dari kejernihan jiwa, ketulasan hati, akhlaq mulia, sikap tawudhu’, kesaopanan tutur kata, keikhlasan kalbu yang membaur menjadi satu. Perhasian kita bukanlah emas, permata, perak, tapi semua yang ada dalam diri (inner beauty) semakin kita pupuk, maka semua itu akan semakin terpancar inner baeuty kita. Yang artinya kita akan terlihat semakin menawan. Inilah hakikat dari kecantikan di dunia, takkan ada yang abadi, kecantiakan fisik termasuk bagian dari dunia yang akan rusak. Lalu kenapa kaum hawa masih memprioritaskan hal itu dari pada kecantikan batin? Padahal ketika dikubur malaikat munkar nakir takkan menanyakan seberapa cantik dirimu pada saat kamu masih hidup?, apalagi berapa banyak orang yang memuji kecantikanmu? Tidak sama sekali, itu semua adalah salah satu bukti bahwa kecantikan fisik sama sekali tak berguna dikehidupan abadi kelak, bahkan sebuah kesederhanaan dan kesahajaanlah yang seharusnya menghiasi diri seseorang muslimah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh ibunda-ibunda kita, ibunda siti khadijah Al-kubro, ibunda siti aisyah Ar-ridho, ibunda siti fatimah Az-zahro, adakah sejarah yang mencatat bahwa kesederhanan dan kesahajaan beliau menutupi kecantikan fisik beliau sehingga membuat orang di sekitar beliau tidak sukamelihat beliau? Tidak, malahan semua orang terpesona dengan kesederhanaan dan kesahajaan  beliau yang terbungkus dalam akhlaqul karimah, tentunya dibalik lindungan hijab jika kita sebagai muslimah tidak mau mengikuti atau mencontoh beliau lalu siapa yang akan kita contoh ?.
keluar dari itu semua kecantikan sebenarnya  dapat kepada maqom yang lebih dekat dengan-NYA, kecantikan juga bisa menjadi penyebab seseorang masuk surga, jika kecantikan itu di tempatkan pada bagian yang seharusnya ia berada, seperti saat seseorang melihat kecantikan fisik yang dimilikinya dari pantulan sebuah cermin, dia bersyukur atas nikmat tersebut dan menyadari betapa keagungan tuhan yang menciptakannya begtu dahsyat sehingga membuat keimanannya semakin kuat dan mendoronyanya untuk memelihara kecantikan fisiknya dengan menyembunyikannya di baik hijab. Contoh yang lain, jika seorang istri berhias agar terlihat cantik di dpan suaminya, agar suaminya senag melihatnya, sehingga suami merasa ridho dengan diri istrinya.
Dalam kenyataanya, remaja zaman sekarang selalu berusaha agar dia menjadi pusat perhatian, mampu enghipnotis semua orang untuk menatapnya untuk itu mereka tak segan-segan melakukan segala cara, mereka denga antainya memamerkn kemolekan fisik mereka hanya agar dikatan cantik dan menarik. Para REMUS (remaja muslimah) pun tal luput dari hal itu. Memang mereka menutup aurot dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi baju yang mereka gunakan sangat seksi sehingga menunjukkan tubuhnya yang terkesan vulgar, jika di tegur mereka hnya berdalih “yang penting kita udah menutup aurot kan”. Menutup aurot dengan gaya Atas Mekkah Bawah Amerika.

Akhwaty... kita itu istimewa maka istimewakan dri kita, kita itu berharga maka hargailah diri kita, kita itu mutiara maka jangan pernah merusak kilau cantik kita dengan menaruh dan mengumbarnya di sembarang tempat. Oleh karena itu, hiasi iman kita dengan kecantikan dalam keridhoan dan kehormatan dalam hijab yang menutup aurot./it have written 2 years ago by farach edelwis, another name of farah nadya/

Rabu, 15 Januari 2014

peneraapan sila kedua dalam keperawatan



Sebagai warga negara yang baik, setia kepada nusa dan bangsa, seharusnyalah mempelajari dan menghayati pandangan hidup bangsa yang sekaligus sebagai dasar filsafat negara, seterusnya untuk diamalkan dan dipertahankan. Pancasila selalu menjadi pegangan bersama bangsa Indonesia, baik ketika negara dalam kondisi yang aman maupun dalam kondisi negara yang terancam. Hal itu tebukti dalam sejarah dimana pancasila selalu menjadi pegangan ketika terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa indonesia.
Oleh karena itu, penerapan pancasila dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting dan mendasar oleh setiap warga negara, dalam segala aspek kenegaraan dan hukum di Indonesia. Pengamalan pancasila yang baik akan mempermudah terwujudnya tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia.
A.    Penerapan sila kemanusiaan yang adil dan beradab pada butir mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiaban asasi setiap manusia  tanpa membeda bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dn sebagainya.
Seorang perawat tidak boleh membeda bedakan pasien, perawat harus memberikan pelayanan kesehatan yang sama kepada setiap pasien tanpa harus membeada-bedakan suku, meskipun pasien itu dari suku pedalaman atau bahkan pasien berasal dari suku yang sedang mempunyai konflik dengan suku perawat tersebut, pelayanan kesehatan harus tetap di berikan dalam hal ini profesionalisme dan rasa kemanusiaan harus diutamakan, mungkin hal ini tidak terlalau menjadi masalah di unit pelayanan kesehatan di perkotaan tapi hal ini akan menjadi masalah yang serius di daerah pedalaman yang masih kental budaya kesukuannya.
Begitu juga dengan agama dan kepercayaan, dalam agama islam bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim itu tidak diperbolehkan, hal ini tidak bisa dijadikan dalih oleh seorang perawat muslim untuk tidak merawat pasien yang bukan sejenis dengannya atau bukan muhrimnya karena dalam agam islam pun ada kelonggaran dalam masalah kesehatan, dalam artian selama hal itu masih dalam konteks perawatan kesehatan maka masih diperbolehkan, begitu juga dengan perawat dari agama lain, contoh lain, jika seorang perawat bertemu dengan perstiwa kecelakaan di jalan, naluri kemanusiaan dan jiwa perawatnya harus bekerja, tanpa memandang siapapun korbannya apalagi meneliti agama korban tersebut, perawat harus cepat dan tanggap memberikan pertolongan pertama dan merujuknya ke rumah sakit terdekat jika memang membutuhkan perawatan yang lebih serius, bukan sikap seorang perawat jika seorang perawat tidak mau memberikan pertolongan kepada korban kecelakaan atau musibah yang lain dikarnakan korban tersebut memakai kalung salib sedangkan dirinya beragama hindu.
 Salah satu aspek yang rawan lagi dalam penerapan sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah aspek kedudukan sosial, di seluruh rumah sakit tentu mempunyai kelas-kelas yang berbeda dalam hal fasilitas kamar, seperti contoh kamar di paviliun (vip) tentu mempunyai fasilitas dan kenyamanan yang berbeda dengan kamar- kamar di selain paviliun (kamar biasa), akan tetapi seorang perawat harus tetap memberikan pelayanan yang sama pada semua pasien di semua kamar, tidak perduli di kamar vip ( yang biasanya di huni oleh orang berekonomi menengah keatas) ataupun di kamar biasa, pelayanannya harus tetap sama  jika penyakitnya sama, pelayanan kesehatan kepada pasien tentu tidak selamanya harus sama, hal ini tergantung dengan tingkat kekronisan penyakit yang diderita oleh pasien, pasien dengan penyakit asam lambung tentu pendapat perhatian yang berbeda dengan pasien deagn penyakit jantung koroner, kebiyasaan yang biasanya terjadi ialah jika seorang direktur perusahaan maka ia meminta pelayanan penuh, maka penerapan sila kemanusiaan yang beradab bukan berarti memberikan pelayanan penuh kepadanya, apalagi jika pasien tersebut menyuruh dengan sesuka hatinya, menurut teori yang dikemukakan oleh dorothea orem, perawatan yang diberikan oleh pasien tidak selalu bergantung pada perawat, ada waktu waktu tertentu dimana pasien harus bersikap mandiri.
Lain lubuk lain ikannya, peribahasa ini menggambarkan bahwa kepercayaan\ kebudayaan itu berbeda beda di tempat-tempat yang berbeda-beda pula, tradisi dan mitos merupakan faktor pendukung, tidak jarang mitos yang dipercayai tidak bisa dibuktikan secara ilmiah kebenarannya, atau malah mitos yang dipercayai itu malah membawa dampak buruk yang tidak disadari selama berpuluh puluh tahun, seorang perawat seharusnya bisa menerima dan memaklumi kepercayaan yang dibawa oleh setiap pasien dan menghormatinya selama kepercayaan itu tidak bertentengan dengan konsep kesehatan dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Dalam memberikan pertolongan atau asuhan kesehatan, seorang perawat tidak boleh membeda bedakan jenis kelamin laki-laki, perempuan atau bahkan yang mempunyai kelamin ganda, semua adalah pasien yang harus ditolong dan memerlukan asuhan keperawatan, begitu juga dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti pemasangan kateter, jika memang tidak ada perawat yang sejenis dengan pasien maka perawat yang berlainan jenis harus siap dan mau untuk melakukan tindakan tersebut.
Perbedaan jenis warna kulit juga terkadang menjadi masalah yang menghambat tindakan keperawatan, seorang perawat tidak seharusnya memilih pasien yang sewarna kulit dengan dirinya dalam memberikan asuhan keperawatan,  di beberapa tempat masih mempunyai presepsi bahwa orang kulit putih lebih maju dari pada orang berkulit hitam, semua pasien mempunyai hak yang sama ketika ia masuk unit kesehataan, tidak perduli dia siapa, apa atau bahkan berkulit apa.
Akhir-akhir ini telah diterapkan oleh pemerintah sistem ASKES/BPJS yang memudahkan keluarga berekonomi rendah untuk memperoleh perawatan kesehatan, tapi oleh beberapa oknum kesehatan hal ini dijadikan alasan untuk tidak segera memberikan pelayanan kesehatan, banyak orang-orang yang berobat dengan menggunakan askes terlantar di lorong lorong rumah sakit karena lambatnya pelayanan yang diberikan, bahkan tidak jarang  juga mereka sampai tidak bisa diselamatkan lagi, di lain kisah, mereka yang berekonomi rendah, biasanya tidak mempunyai pendidikan yang tinggi, hal ini menyebabkan mereka masih kebingungan bagaimana cara mengurusi askes agar bisa memperoleh perawatan, sebagai seorang perawat yang profesional, kita harus tetap memberikan perawatan yang sama kepada mereka yang berobat dengan menggunakan askes atau yang berobat dengan mengguakan biaya sendiri, meraka sama-sama memerlukan perawatan, disinilah peran sila kedua bekerja, kemanusiaan yang adil dan beradab.
B.     Penerapan sila kemanusiaan yang adil dan beradab pada butir mengembangkan sikap tidak semena mena terhadap orang lain.
Dalam satu teori keperawatan yang diungkapkan oleh seorang ahli keperawatan, mengatakan bahawa pasien adalah subyek bukan obyek apapun keadaannya, meskipun ia dalam kondisi tidak sadar atau koma, teori ini menjelaskan bahwa perawat tidak diperbolehkan memperlakukan pasien sekehendak hatinya, bukan berarti pasien yang koma itu tidak bisa merasakan rasa sakit, jadi seorang perawat harus memperlakukan orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri sama sekali atau pasien dalam keadaan koma seperti memperlakukan orang yang sadar sepenuhnya, perawat harus bisa membayangkan bagaimana jika pasien yang sadar diperlakukan seperti itu, apakah dia akan merasa kesakitan?, atau apakah dia akan memprotes jika di beri perlakuan seperti itu?.
Termasuk juga penerapan pancasiala sila kemanusiaan yang adil dan beradab ialah perawat harus memberi perlakuan kepada pasien sebagaimana ia ingin di perlakukan saat ia menderita sakit, bukan malah memanfaatkan keterbatasan pasien untuk melakukan hal sesuka hatinya.
C.     Penerapan sila kemanusiaan yang adil dan beradab dalam butir mengembangkan sikap tenggang rasa tepa selira.
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia mempunyai hak-hak yang tidak dapat di ganggu gugat oleh orang lain. Seperti misalnya, sebagai makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, manusia selalu ingin hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Sehingga dengan mengembangkan sikap tenggang rasa, manusia dapat bersosialisasi dan menjalankan kodratnya sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial.
Sikap tenggang rasa adalah suatu sikap hidup dalam ucapan, perbuatan, dan tingkah laku yang mencerminkan sikap  menghargai dan menghormati orang lain. Tenggang rasa berarti harus dapat bergaul dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Dengan tenggang rasa seseorang dapat merasakan atau menjaga perasaan orang lain sehingga orang lain tidak merasa tersinggung. Sikap tenggang rasa merupakan sikap yang memiliki nilai budi pekerti yang baik. Dengan memiliki sikap tenggang rasa ini, seseorang bisa menempatkan diri pada lingkungan pergaulan dengan benar sehingga tercipta suasana yang rukun, harmonis, serasi, selaras, dan seimbang.
Sikap tenggang rasa juga disebut Tepo Seliro merupakan sebuah ungkapan dari Bahasa Jawa, yang memiliki arti kita merasakan apa yang orang lain rasakan. Dalam pergaulan kita wajib persaudaraan dan persahabatan agar dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetap terjalin rasa persatuan dan kesatuan yang menjelma menjadi kerukunan. Dan kerukunan itu akan tetap berjalan baik, selama kita saling menghormati dan memupuk sikap tenggang rasa antar sesama.
Seorang perawat harus mempunyai sikap tenggang rasa atau tepo seliro agar bisa memupuk rasa perduli dan dengan senang hati melakukan perawatan, jika seorang perawat tidak mempunyai tenggang rasa maka akan merasa berat melakukan tugasnya, bahkan akan membawa dampak negatif pada psikologi pasien, membangun komunikasi yang baik denagn pasien, dalam artian sikap dan ucapan menujukkan bahwa perawat tersebut menghormati pasien, apapun penyakit yang diderita pasien, seorang perawat tidak boleh merendahkan pasien karena penyakit yang di deritanya, seperti penderita penyakit HIV, bahkan seharusnya seorang perawat harus bisa memberi semangat dan nasehat-nasehat yang baik untuk membantu pasien agar bisa segera sembuh, tidak semua penyakit bisa disembuhkan dengan obat, keadaan psikolog pasien juga banyak membantu dalam proses penyembuhannya, dengan sikap tenggang rasa pasien akan merasa diperhatikan dan dihormati hal ini memberikan perasaaan aman pada pasien sehingga bisa mempercepat penyembuhannya.

PEREMPUAN SUNYI

Nama yang diberikan orang tuanya adalah nama seorang ratu di jaman Nabiyullah Yusuf AS, Zulaikha, seorang ratu tentunya berkehidupan mewah ...