Waktu terkadang
tidak mampu menghapus suatu kenangan, bahkan jika itu kenangan yang mati-matian kau
ingin lupakan
Benci dan cinta
ternyata memang berbatas tipis, aku membuktikannya sendiri, patah hati
mengharuskan ku untuk membencinya, mau atau tidak mau aku mengusirnya dari
hidupku meskipun saat itu aku benar-benar mencintainya, bodoh memang, tapi
apalagi yang harus ku buat agar semuanya tidak semakin terasa menyakitkan?,
saat itu aku benar-benar membencinya, aku percaya dengan mengingat semua
kesalahannya akan membuatku semakin mudah untuk melupakannya, but you know? it
didn’t work, semakin aku membencinya, semakin pula aku mengingatnya, sampai
tanpa ku sadari aku semakin mencintainya, lantas aku harus bagaimana? Air mata
ini telah kering untuk bisa keluar lagi, hati ini seakan tak mampu lagi
menerima cinta selain darinya, bahkan aku sangat berharap bisa bertemu lagi
dengannya, meskipun aku masih ingat betul akulah yang mengusirnya keluar dari
hatiku, sampai suatu hari saat aku berdiri dibawah derasnya air hujan aku
merasakan sakitnya air hujan yang menimpa tubuhku, aku terhenyak, semakin aku
merasakan sakitnya air hujan semakin aku merasa bahwa yang jatuh dari langit
adalah jarum bukan air, tapi saat aku berpasrah mencoba menikmati setiap tetes
yang menyentuh kulitku dengan keikhlasan aku tak merasakan sakit lagi, aku
memejamkan mata dan mendengar bahwa derasnya air hujan ini membentuk sebuah
melodi yang menenangkan, inilah jawabannya fikirku, mulai saat itu aku belajar
memaafkannya, mengikhlaskannya, mengobati sendiri luka yang terlanjur ada,
bahkan menikmatinya, perlahan kenangan itu hilang dengan sendirinya, meski
bukan keselurahanya, ada sedikit sisa kenangan yang ku biarkan tetap disitu,
aku ingin menyimpannya dikotak Pandora dalam memoriku yang bisa kubuka setiap
waktu, bukan untuk merasakannya kembali tapi untuk alasannku bersyukur bahwa
aku pernah mengalaminya, dan aku melewatinya dengan tangguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar