lantas aku harus menjawab bagaimana?
mengingkarinya?
tidak,
bagaimana caraku mengingkarinya jika memang hal itu lah yang terjadi.
Lalu tidakkah kau berniat untuk mencari pasangan agar kau tidak selalu dicemooh?
buat apa kawan?
hanya untuk membuat mereka berhenti mencemoohku?
tentu tidak
cinta tak bisa dijatuhkan sesederhana itu, apalagi hanya demi harga diri
aku menafsirinya dengan sangat tinggi kawan, bahwa cinta itu sakral, bahwa cinta itu tak akan ku sentuh jika memang hati ini belum terjatuh kedalamya
biarkan aku menceritakan sedikit kisah hidupku padamu, jika kau mau mendengar ocehan ku ini.
Iya, tentu aku mau.
dengarkanlah kawan... beberapa waktu yang lalu aku telah mendapat 2 goresan luka di hatiku, tentu waktunya tidak bersamaan, luka yang pertama aku dapatkan asli dari pemberiannya, memang aku tak pernah berfikir dia bakal setega itu, dia mungkin tak merasa jika dia first person yang kuizinkan untuk menghuni ruang kosong dihatiku, untuk saat-saat pertama ia menghiasinya begitu indah sehingga hanya dengan berdiam diri di dalamya aku sudah merasa bahagia, dan kemudian jarak berkerja sama dengan sang waktu untuk menggerusnya sedikit demi sedikit, mungkin banyak keindahan yang lain yang membuatnya kagum, lantas dengan sesuka hati dia membanting pintu runag kosong itu lalu meninggalkannya, saat itu juga 1 goresan luka telah tercipta, dan sepertinya aku tak hendak melupakan kejadian itu, meskipun aku telah berdamai dengannya bukan berarti itu menghapus bersih semua goresan yang terlanjur tercipta.
luka yang kedua memang aku yang sengaja menggoresnya, ya.. ini pure kesalahanku, dia ingin masuk ke ruang kosong itu tapi bukan ruang yang dulu pernah dihiasi oleh dia yang pertama, tapi aku salah mempersilahkannya masuk, dia menawarkan berbagai dekorasi yang cantik, dan aku dengan senang hati membiarkan dia menghiasi ruang itu, hiasan yang benar-benar aku sukai karena seleranya sama dengan seleraku, awalnya aku membiarkan pintu itu terbuka, aku tau cepat atau lambat dia akan pergi, tapi lama kelamaan aku merasa nyaman dengan keberadaannya di ruangan itu, aku juga mendapat masukan untuk mengizinkan dia tinggal di ruangan yang semula ingin ku tutup itu, seiring berjalannya waktu aku mulai sadar, tempatnya bukan disini, dan akhirnya aku mengusirnya, ya.. benar-benar mengusirnya tanpa kata pisah, meski hatiku berontak tapi aku tetap mengingkarinya, air matakupun ikut berontak tapi aku tak menghiraukannya dan saat itulah untuk kedua kalinya goresan itu terbentuk, meskipun telah lama goresan itu terbentuk, meskipun aku telah berdamai dengan hatiku, disaat-saat tertentu memori itu seakan memutar dengan sendirinya di otakku, menyesal? tidak, karena aku tahu itulah caraNYA menghiasi lembaran hidupku tanpa menjadikannya abu-abu.
Berarti kau trauma dengan semua hal itu kawan?
tidak kawan, aku tidak trauma dengan semua hal itu, bukankah tadi sudah ku katakan bahwa aku tahu itu semua adalah caraNYA menghiasi lembaran hidupku? untuk saat ini aku hanya ingin menjadi seorang putri, putri yang cantik hatinya, putri yang dibutuhkan oleh rakyatnya, putri yang disayang oleh semua rakyatnya, putri yang mandiri dan gagah berani tanpa mengingkari keanggunan dari nama putrinya, putri yang selalu menjadi kebanggaan rakyatnya, hingga hanya seorang pangeran yang gagah beranilah yang berani melamarnya, pangeran yang juga merasa pantas bersanding dengan sang putri untuk mendirikan kerajaannya sendiri, pangeran yang merebut hati sang putri lewat rayuannya kepada Tuhannya, pangeran yang menjanjikan kebahagiaan kepada sang putri di dunia, dan juga berjanji akan menuntun sang putri untuk mendapat kebahagiaan di alam keabadian.
hanya sesederhana itu kawan pemikiranku, entah kau menggapku seperti apa, itu murni hakmu kawan..
